LUWU,Belopa,Lintera News | Viral nya pemberitaan di medsos pasien meninggal dunia akibat operasi Caesar dan Kista yang diduga karena terjadinya Malpraktek dan Melanggar SOP.

Sebagaimana dalam pembahasan konfirmasi kepada pihak RSUD Batara Guru melalui dr Sahrul, bahwa menurutnya berdasarkan hasil konfirmasi kepada tim medis pelaksana operasi Caesar dan Kista terhadap Almarhumah Khaerun Nisa pada Senin, 8 Juni 2026 membenarkan bahwa pasien pada awalnya tidak ditemukan atau diketahui kalau pasien punya penyakit Kista.

Dikutip dari laman Merak Nusantara,dr. Sahrul menjelaskan pihak tim operasi baru mengetahui bahwa pasien punya penyakit kista setelah bayi diangkat dari dalam rahim pasien.

“Sesuai penjelasan dokter tim operasi, bahwa operasi dilakukan karena pasien yang masih sadar sempat dikonfirmasi bahwa ternyata punya kista. Operasi kista pun dilanjutkan karena pasien menyetujuinya,” ungkap dr. Sahrul kepada Tim LSM Aspirasi

Hanya saja menurut dr. Sahrul mengakui bahwa hal itu sebenarnya harus dilakukan berdasarkan persetujuan pihak keluarga atau ahli warisnya termasuk suaminya sebagai penanggungjawab pelaksanaan operasi Caesar.Itulah kekhilafan yang terjadi bagi tim operasi dan semoga hal ini menjadi pembelajaran kedepannya agar lebih hati-hati dan menjadi lebih baik serta tidak terulang kembali.

“Penyakit Kista yang selama ini tidak terdeteksi melalui pemeriksaan USG,  karena keberadaannya persis dibelakang Bayi,” katanya menirukan Tim Dokter operasi Caesar dan Kista kepada LSM Aspirasi

Mendengar keinginan pihak keluarga untuk menemui Direktur RSUD Batara Guru sebagai bentuk upaya mencari solusi persuasif melalui sikap dan tanggungjawab pihak RSUD Batara Guru, baik itu kepada pihak keluarga korban atas 2 orang anaknya yang ditinggalkan dengan maksud untuk mendapat perhatian pihak RSUD Batara Guru.Namun sebalik,Dirut RSUD Batara Guru dr.David Mustakim malah terkesan menghindar dan enggan menemui keluarga pasien

“Kami sangat menyayangkan sikap Dirut Rumah Sakit Umum Batara Guru yang terkesan menghindar padahal awalnya dikatakan Dirut berada di Belopa. Setelah kami menunggu tidak lama kemudian, dr. Sahrul menemui kami dan langsung mengatakan kalau Direktur RSUD Batara Guru saat ini berada di Padang Sappa tanpa disebutkan dalam rangka apa “ujar Nasrum Naba Ketua LSM Aspirasi

Gagal menemui Dirut Rumah Sakit Umum Batara Guru ,Tim Investigasi LSM Aspirasi malah diwarnai dengan tawaran traktiran makan dari pihak yang disebut terlibat dalam persoalan tersebut. Tawaran itu dinilai oleh tim sebagai bentuk pendekatan yang berpotensi memengaruhi independensi proses investigasi, sehingga memunculkan dugaan adanya upaya membujuk agar tim tidak lagi mengupayakan pertemuan langsung dengan pimpinan rumah sakit.

Selain itu, tim juga menyoroti adanya permintaan nomor rekening yang disebut dilakukan oleh dr. Sahrul kepada Tim LSM Aspirasi. Fakta tersebut kemudian memunculkan dugaan adanya indikasi pemberian sejumlah uang yang dinilai tidak relevan dengan proses klarifikasi yang sedang berlangsung.

“Sebagai Lembaga Sosial Control , kami hanya menjalankan tugas untuk memperoleh informasi dan klarifikasi yang berimbang. Namun ketika muncul tawaran tertentu serta permintaan nomor rekening, tentu hal itu menimbulkan pertanyaan dan patut menjadi perhatian publik,” tegas Nasrum

Menurut nya ,peristiwa tersebut semakin memperkuat alasan untuk mendalami berbagai persoalan yang sebelumnya telah menjadi sorotan publik terkait pelayanan dan tata kelola di RSUD Batara Guru. Mereka menilai bahwa setiap dugaan pelanggaran, termasuk dugaan penyimpangan prosedur maupun dugaan pelanggaran standar operasional, harus ditangani secara transparan dan akuntabel.

“Jika benar terdapat upaya untuk memengaruhi atau meredam proses investigasi melalui pemberian fasilitas maupun sejumlah uang, maka hal tersebut merupakan persoalan serius yang perlu mendapat perhatian aparat penegak hukum,”tutup nya

Dikonfirmasi terpisah lewat Via WhatsApp, Dirut Rumah Sakit Umum Batara Guru malah memilih bungkam  (*)