Makassar,Lintera News – Perjalanannya menjadi seorang perawat tidaklah mudah, ia berjuang tanpa kenal lelah

Hj.Marlina,S.Kep.Ners,M.Adm.Kes (41) memulai kisah saat dirinya diterima di salah satu sekolah keperawatan tahun 1995 di Makasaar.

“Awalnya saya tak punya cita – cita seperti ini, tapi keinginan ayah yg menginginkan kami melanjutkan profesinya, yang memang kebetulan saat itu Ayah juga seorang perawat di salah satu Rumah Sakit Kusta di kota Makasaar,” tutur Marlina.

Berbekal semangat yang selalu diberikan ayahnya, membuat Marlina pasrah berusaha dan mencoba meyakinkan dirinya untuk menekuni sekolahnya kala itu.

Marlina masih mengingat pesan ayahnya saat memberinya semangat, ” profesi perawat tidak menjamin kita jadi kaya, tapi lebih kepada masalah kemanusiaan,” kata Marlina meniru kalimat ayahnya.

Usai menyelesaikan sekolah keperawatannya, Marlina akui masih susah cari kerja saat itu, namun dirinya tetap berusaha.

Melihat kondisi Marlina bersusah payah mencari kerja ayahnya, ayahnya tetap memberinya semangat, “Meskipun hanya jadi tenaga sukarela juga tidak apa – apa nak, nanti ayah yg kasih ongkos transportasinya, kalau jemputan tdk datang,” kata Marlina meniru ayahnya saat itu.

Hingga 5 tahun ditekuninya jadi seorang tenaga Sukarela, akhirnya berbuah manis. Usahanya selama 5 tahun dirinya menjadi sukarela akhirnya terangkat jadi ASN.

Hingga Covid – 19 melanda seperti sekarang ini, Marlina mencoba menguraikan masalah terkait kerapnya beredarnya isu sepihak bahwa, “mungkin dipikiran orang dimasa pandemic sekarang ini reward kami lebih besar, Sumpah seperserpun uang covid tdk singgah dikantong kami, sebab tdk merawat langsung pasien covid, tapi jangan salah, kondisi ini takkan mengurangi jiwa pengabdian kami, dan malah bagiku inilah waktunya mengumpulkan amalan yg besar, cetusnya.

Dimasa Pandemi, Marlina mencoba meyakinkan masyarakat sekelilingnya terkait adanya ketakutan masyarakat berobat ke Rumah Sakit.

Marlina mengakui hingga saat ini dirinya kerap mendapat panggilan orang – orang yang membutuhkan disekitarya. Mambuat dirinya beupaya semaksimal mungkin memenuhi walau kadang sesuap nasipun belum masuk ke perutnya.

Kondisinya yang sering sibuk hingga membuat anak – anaknya nya pun jd mandiri lebih awal.

Rutinitasnya sebagai perawar selalu terbangun tengah malam buat pasang infus agar pasien tak dehidrasi akibat muntaber atau sekedar menjaga keseimbangan elektrolit, itulah tugasnya.

“Bagiku senyum dan terimakasih sdh melebihi dari segalanya, ,aku selalu bersyukur menjadi seorang Perawat,” imbuhnya

Berangkat dari ketekunannya, kini Marlina sudah beberapa tahun bekerja melayani masyarakat di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Tadjuddin Chalid salah satu Tumah Sakit Rujukan di Kota Makassar Sulsel.

“Ayahku dulu seorang Perawat Kusta, sy lahir dan besar dilingkungan lepratorium , pasien yg sdh dikucilkan oleh keluarganya, tapi ayah malah merawatnya dirumah kami, kami selalu bersyukur masih diberi waktu dan kesempatan buat bermanfaat bagi sesama dan itu bagi kami adalah karunia yg tak terhingga,” ungkap Marlina.

Penghujung kisahnya, Marlina mengajak dan mencoba memotivasi rekan – rekan khusunya yang bertugas di pedalaman dan kerap mendapat perlakuan yang tidak nyaman bahwa,” Kami tak butuh sanjungan juga tak butuh penghargaan setinggi langit karna ada Tuhan yg akan menilainya, bicara ikhlaspun kami tak pantas semua kami lakukan hanya berharap RidhoNYA, mendapat perlakuan tak pantas dan kecewa pasti ada.

“Semoga kita semua bisa diberi kesehatan dan ketabahan yg lebih dalam melayani sesama,” Pungkas, ( yusuf R/Jamal )