JENEPONTO.Linteranews.com-Kapolres Jeneponto AKBP Andi Erma Suryono, SH. S.IK, hadiri kegiatan rapat monitoring dan evaluasi Tim Satgas Nasional penanganan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dalam rangka pendampingan percepatan penanganan PMK di wilayah Kabupaten Jeneponto, yang di pimpin Brigjen Pol Ari Laksamana Widjaja (Wakil Ketua Koordinator Pengendalian Satgas PMK Nasional)bersama Tim Satgas PMK Nasional.di Aula lantai II Polres Jeneponto Jl. Sultan Hasanuddin Kelurahan Empoang, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto,Sulawesi Selatan.Selasa(4/10/2022)
Adapun yang hadir dalam kegiatan tersebut yaitu ,AKBP Andi Erma Suryono, SH. S.IK. (Kapolres Jeneponto),Letkol Inf. Agus Tanra, S.Ag. (Dandim 1425 Jeneponto, Achmad, SP., Adm. Pemb. (Kepala Dinas Pertanian Kab. Jeneponto),Kompol Muh. Thamrin, SH. (Kabag Ops Polres Jeneponto),Bahtiar Gassing, SP. (Kabid Peternakan Dinas Pertanian Kab. Jeneponto),Drh. Nurliani Syamsul, M.Si. (Kasi Keswan Bidang Peternakan Kab. Jeneponto),Sekretaris BPBD Kab. Jeneponto,Muh. Idrus (Anggota Balai Karantina Hewan Makassar) dan Para anggota Tim Satgas PMK Kabupaten Jeneponto.
Adapun sambutan dan arahan antara
Brigjen Pol. Ari Laksamana Widjaja, saya sampaikan banyak terima kasih, dari tim Nasional Satgas PMK, maksud dari kedatangan kami untuk monitoring dan evaluasi terkait dengan perkembangan penanganan PMK di wilayah Sulawesi-Selatan khusunya Kabupaten Jeneponto.
“Satgas PMK dibentuk setelah ditemukan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan berkuku sehingga bapak presiden memerintah kepada kementerian pertanian RI untuk membentuk tim satgas PMK dengan harapan pemerintah berharap penyakit ini bisa di cegah penyeberannya.
“Penyakit PMK sudah menular di 19 Provinsi di Indonesia, sehingga presiden RI memerintahkan kepada jajaran BNPT RI untuk menjadi TIM Penanganan PMK secara nasional.
“PMK tidak seperti covid, yang bisa menyerang manusia melainkan menyerang hewan atau ternak yang berkuku empat yang merupakan kelompok hewan yg bisa terkena. Akan tetapi dampaknya ke bidang sosial ekonomi sehingga penyakit ini menjadi atensi nasional kita bersama untuk memutus mata rantai penularan PMK.
“Ini menjadi perhatian nasional, apalagi bulan ini akan di laksanakan G20 di Bali, inilah menjadi alasan pemerintah pusat berkeinginan pada bulan november kita sudah dalam situasi bebas dari PMK atau Zero PMK secara nasional.
” Yang menyebabkan ternak mati itu bukan PMK nya melainkan kelaparan nya karena dampak dari PMK menyebabkan hewan tersebut tidak makan dan minum, akan tetapi
“Ada beberapa strategi dalam menanggulangi masalah PMK yaitu
– Pengamanan secara hidup ( bio securty) yaitu bagaimana cara kita melindungi ternak, dengan cara penyemprotan disinfektan.
– Pengobatan, disarankan hewan yg terkena PMK untuk diobati baik yang sehat maupun yang sakit baik menggunakan obat-obatan maupun mengobati secara kearifan lokal kepada ternak.
– Vaksinasi, diberikan kepada hewan yang sehat bukan kepada hewan yang sakit.
– Pemotongan bersyarat, hewan yang dilakukan pemotongan bersyarat adalah hewan yang harus di potong karena terkena PMK diberikan kompensasi kepada pemilik nya yang merupakan wujud bantuan dari pemerintah yang di lengkapi dengan surat dari dokter yang menyatakan hewan tersebut terkena PMK.
“Saya harapkan kepada tim Satgas PMK Kab. Jeneponto untuk pro aktif dalam mencegah penyebaran PMK dengan mengantisipasi adanya hewan yang masuk dari wilayah luar yang tidak termonitor oleh tim satgas PMK.
“Semakin banyak hewan ternak yang sudah di vaksin maka semakin cepat kita mencapai hard immunity pada hewan yang rentan terkena PMK agar tujuan nasional bisa kita capai sesuai dengan harapan pemerintah pusat. Vaksinasi maksimalkan bio securty di kuatkan.
” Terkait dengan masalah PMK surat edaran dan paling menjadi atensi yaitu tenaga vaksinator. Kami dari Satgas Pusat menyarankan membentuk tim satgas turun ke Kecamatan guna memudahkan tingkatan yang lebih kecil apalagi yang sifatnya rutin bisa terpantau secara menyeluruh, terkhusus wilayah Kab. Jeneponto yang menurut laporan kebanyak hewan ternak di lepas bebas untuk mencari makan.
“Kami meminta kepada Satgas Pengendalian PMK di daerah, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas untuk selalu memperketat pengawasan, dan penertiban pihak-pihak yang mengambil keuntungan pribadi dari situasi wabah PMK ini.
“Demikian yang dapat saya sampaikan saya harapkan kepada tim Satgas Kab. Jeneponto dapat mempercepat penanganan penyebaran PMK. “Ujarnya
Kapolres Jeneponto mengungkap yang intinya “Kami dari jajaran TNI dan POLRI selalu melakukan koordinasi dengan tim dokter dan memanfaatkan peranan aktif para babinsa dan bhabinkamtibmas untuk ikut serta dalam penanganan kasus PMK.
“Kemarin kita mencapai di angka 107 kasus PMK di wilayah Kab. Jeneponto tetapi dengan kerja keras dari tim satgas perlahan bisa kami tekan penyebarannya.
“Jeneponto memiliki pelabuhan yang merupakan lalu lintas hewan dari luar Kab. Jeneponto, kami dari pihak kepolisian maupun gabungan tim satgas Kab. Jeneponto telah menerapkan sistem pemeriksaan yang ketat sesuai dengan prosedur lalu lintas hewan ternak.
“Kami dari jajaran polres jeneponto, mendukung penuh penanganan kasus PMK di wilayah Kab. Jeneponto.
“Terimah kasih bapak bersama tim atas arahan dan petunjuk kepada kami semua dan kami akan bekerja sinergi untuk menangani kasus PMK di Kab. Jeneponto.”Ulasnya
Dandim 1425 Jeneponto ungkap yang intinya “Setelah Tim Satgas PMK Kab. Jeneponto kami yang terlibat dalam tim tersebut langsung melakukan action dilapangan dengan solid, kami selalu melakukan pedampingan dalam setiap kegiatan tim satgas PMK.
“Upaya dan ikhtiar kita sudah ada hasil dibuktikan dengan adanya penurunan ksus PMK, dan khusus wilayah Kab. Jeneponto tidak secara menyeluruh di setiap kecamatan melainkan hanya ada beberapa kecamatan diantaranya Kec. Bangkala dan Kec. Batang yang menjadi wilayah tracer dari tim PMK.
“Terkait dengan vaksinasi, teman-teman dilapangan kami ada keterbatasan terkait tenaga vaksinator dan kita maksimalkan dari tim dokter hewan yang dilibatkan langsung kedalam tim Satgas PMK”Tegasnya
Adapun kesimpulan rapat, yaitu “Melakukan pendataan yang valid terhadap jumlah hewan ternak di wilayah Kab. Jeneponto serta jumlah hewan terkonfirmasi PMK.
“Menerapkan pengamanan biosecurity yang baik. Seperti keluar masuk dari dan ke dalam kandang tanpa melihat kondisi hewan yang ada di dalam kandang, sehingga berisiko dapat membawa virus ke hewan ternak rentan PMK yang sehat.
“Penerapan biosecurity yang tepat, menjadi salah satu upaya penting memutus mata rantai penyebaran PMK. Antara lain dengan desinfeksi berkala pada area dan alat-alat di peternakan dengan cara menggunakan bahan-bahan kimia yang mudah dan murah seperti asam sitrat dan asam borat. Kemudian, menerapkan pembatasan pengunjung untuk menekan penyebaran PMK oleh manusia.
“Masyarakat diharapkan tidak khawatir berlebihan, dengan penanganan yang tepat PMK dapat disembuhkan. Oleh karena itu peternak harus proaktif melapor kepada petugas jika mendapati gejala PMK pada ternaknya. Agar ternak yang diduga terinfeksi PMK segera dilakukan pemeriksaan fisik dan pengobatan oleh
medik veteriner dan paramedik veteriner.
“Penanganan PMK sangat penting karena wabah PMK sangat berdampak pada perekonomian nasional. Banyak peternak yang penghasilannya bergantung pada hewan ternak atau produk dari hewan ternaknya. Sehingga wabah PMK ini tentunya berdampak langsung bagi mata pencaharian utama para peternak.
“Melaporkan secara rutin jika terdapat kendala tim satgas Kab/Kota baik pencegahan, pengobatan maupun kendala pelaksanaan vaksin dan tenaga vaksinator agar dapat dilakukan evaluasi guna mempercepat dan memutus mata rantai PMK secara nasional pada umumnya dan Kab. Jeneponto secara khusus”Ulasnya
Kasubsi Penmas Sihumas Polres Jeneponto Aipda Sulfikar Muslimin ( Akbar )


