JAKARTA,Lintera News | Koordinator Nasional Aspirasi Milenial Maluku Indonesia atau AMMI mengecam keras insiden terlindas nya seorang ojol hingga meninggal dunia oleh mobil rantis (Kendaraan Taktis) milik Brimob di Pejompongan, Jakarta Pusat. Melalui Ketua Umumnya, Fauzan Ohorella Koordinator AMMI Pusat sampaikan rasa duka yang mendalam dalam insiden tersebut.

“Pertama kami turut berduka cita atas meninggalnya seorang driver ojol pada kericuhan demo (28/08) di Pejompongan, Jakarta Pusat. Sekali lagi kami sampaikan belasungkawa untuk keluarga korban.” Ujar Fauzan Ohorella (29/08/25)

Selain itu, Fauzan juga mendorong Kapolda Metro Jaya untuk segera identifikasi pengendaraan mobil rantis brimob yang melindas driver ojol itu. Fauzan juga mendesak untuk diberikan sanksi tegas dan evaluasi bagi anggota tersebut.

“Saya harap Kapolda Metro, Irjen. Asep Edi bisa segera identifikasi pengendara mobil rantis brimob ini, dan kasih sanksi tegas. Agar ada keadilan bagi keluarga korban dan masyarakat luas.” Ucapnya

Mantan Direktur LKBHMI PB HMI 2018-2020 itu juga, meminta agar Propam Polri dan Kompolnas juga turut bergerak dalam insiden Pejompongan ini, sehingga jika ada kesengajaan bisa segera di lakukan sanksi etik yang tegas.

“Kami meminta agar Propam Polri dan Kompolnas turut terlibat dalam identifikasi ini. Khawatir ada unsur kesengajaan dalam insiden tersebut.” Tandas dia

Fauzan juga turut mengkritik aksi demo bertajuk Bubarkan DPR 28/08 yang di lakukan oleh elemen mahasiswa, buruh dan masyarakat lainnya di gedung DPR RI, Senayan. Menurutnya, aksi yang harusnya jadi sarana aspirasi berubah jadi kericuhan yang berujung pada tewasnya driver ojol.

“Saya rasa aksi tersebut sudah keluar dari prinsip aspirasi. Yang lebih heran lagi, elemen yang selenggarakan aksi ini tidak bisa kontrol massa pendemo. Saya rasa aksi kemarin tidak lagi murni untuk menyambung lidah rakyat.” Tambahnya

“Harapan kami, dari insiden driver ojol ini bisa jadi pengalaman bagi kita selaku aktivis, yang peduli kemanusiaan dan substansi dalam aspirasi. Agar tidak berubah jadi aksi adu domba antar rakyat dengan aparat”.(***)