LUWU,Lintera News  | Peringatan Hari Jadi Luwu (HJL) ke-757 dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu (HPRL) ke-79, Kamis, 23 Januari 2025, diwarnai dengan aksi unjuk rasa oleh ratusan mahasiswa Wija to Luwu. Aksi tersebut berlangsung di perbatasan Kabupaten Luwu dan Kota Palopo

Massa aksi terlibat dalam dua blokade jalan Trans Sulawesi, dengan membakar ban bekas di dua titik strategis, yakni di bagian selatan dan utara perbatasan. Tindakan ini menyebabkan kemacetan panjang di kawasan tersebut.

Massa Aksi Mahasiswa Wija To Luwu Memblokade Jalan Trans Sulawesi di Jembatan Miring dan Membakar Ban Bekas

Para demonstran menuntut agar pemerintah pusat segera mencabut moratorium daerah otonomi baru (DOB) dan membentuk daerah otonomi khusus Luwu Tengah, khususnya untuk wilayah Walmas

Muhammad Alfian, salah satu orator, mendesak Presiden Republik Indonesia untuk segera mencabut moratorium DOB dan menerapkan pemekaran daerah secara bertahap. Ia juga menegaskan pentingnya penggunaan kembali UU 32 Tahun 2004 dalam proses pemekaran daerah, khususnya bagi calon DOB yang telah memiliki RUU dan Ampres.

“Tuntutan kami adalah mendesak Presiden untuk mencabut moratorium DOB dan melaksanakan pemekaran daerah secara bertahap, serta mendesak pemerintah dan DPR RI untuk kembali menggunakan UU 32 Tahun 2004, khusus bagi calon DOB yang telah memiliki RUU dan Ampres. Kami juga mendesak DPR RI dan pemerintah untuk segera mengesahkan RUU Kabupaten Luwu Tengah,” tegas Muhammad Alfian.

Ia pun menjelaskan bahwa Pembentukan Luwu Tengah sangat diperlukan demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat, karena selama ini aktivitas perekonomian terpusat di Luwu (Belopa) yang memberikan dampak kesulitan bagi masyarakat di Walmas dalam melakukan aktivitas perekonomian.

“Masyarakat di Walmas kesulitan untuk mengakses pelayanan publik dari Pemerintah Daerah Kab. Luwu karena jarak yang ditempuh sangat jauh, dan banyak mengambil waktu masyarakat, bahkan apabila terpaksa masyarakat harus menginap untuk menunggu hasil dari Pemda Kab. Luwu dan tidak hanya pada kondisi sosial masyarakat, adapun pembangunan oleh Pemda Kab. Luwu yang tidak merata di daerah Walmas.” Ujarnya

Aksi demonstrasi ini berlangsung hingga malam hari di tengah jalan Trans Sulawesi, tepatnya di perbatasan Kabupaten Luwu dan Kota Palopo, sebagai bentuk penekanan terhadap tuntutan mereka ( Ys / FS )